Selasa, 16 September 2014

Menurutku itulah Sahabat Sejati

Sahabat sejati itu tidak harus yang selalu berkorban materi,
tapi dia yang rela berkorban waktu...
waktu untuk menunggu, waktu untuk bersama, ketika dalam suka dan duka..
menurutku itulah sahabat sejati..

Sahabat sejati itu yang mengingatkan kita, ketika kita sedang salah,,
yang mengajak kita dalam melakukan kebaikan,,
menurutku itulah sahabat sejati...



Minggu, 31 Agustus 2014

~ Hadits hari ini ~


Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu
menginginkan mati karena kesusahan yang menimpanya, bila ia
benar-benar menginginkannya hendaknya ia berdoa: Ya Allah
hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku dan
wafatkanlah aku jika sekiranya itu lebih baik bagiku." Muttafaq Alaihi.

Ya Rabb... jadikanlah akhir hayat kami dengan iman dihati kami, Aaamiinn...

semoga bermanfaat yah :)

Minggu, 10 Agustus 2014

Ini Pentingnya Menjauhi Asap Rokok Bagi Non-Perokok

Perokok pasif menjadi sasaran tidak langsung dari keburukan rokok. Meskipun banyak perokok menganggap hal tersebut sepele, namun bagi orang lain yang turut menghirup asap rokok tidak boleh dipandang sepele. Sudah banyak kejadian yang menunjukkan korban berjatuhan akibat hal ini. Contohnya pada Desember 2010 lalu, seorang gadis bernama Noor Atika Hasanah meninggal akibat penyakit Bronchopneumonia Duplexkarena menjadi salah satu perokok pasif.
Tahukah Anda wahai perokok? Setiap rokok yang Anda hembuskan dan masuk ke tubuh orang lain, akan menjadikan mereka mengalami masalah kesehatan serius. Mereka yang hidup di lingkungan perokok 30 persen lebih tinggi untuk mengalami flek paru, pneumonia, hingga kanker paru.

Untuk membuktikan pengaruh asap rokok pada perokok pasif tidak bisa secara kasat mata. Seseorang perokok pasif baru akan terlihat racun rokok di tubuhnya setelah dilakukan pengukuran kadar nikotin, cotinine, dan karbondioksida lewat cairan tubuh. Sampelnya dilihat dari urin, ludah, atau darah. Nikotin di dalam tubuh akan menghasilkan cotinine setelah terjadi metabolisme.

Dikutip dari Detik, jenis kanker yang bisa mncul karena rokok cukup banyak selain kanker paru. Misalnya kanker payudara, limfoma, leukemia, tumor otak, hingga kanker rongga sinus. Rokok juga menjadi petaka dengan memicu terjadinya serangan jantung bagi perokok aktif dan pasif.
Asap yang keluar dari rokok memiliki kandungan sekira 4.000 bahan kimia. Kebanyakan semuanya bersifat karsinogenik (penyebab kanker) bagi tubuh. Beberapa di antaranya adalah arsenik, benzene, berylium, dan kadmium.

Cara yang paling jitu menghindarkan diri dari asap rokok adalah menjauhi lingkungan para perokok. Perokok di Indonesia termasuk tipe yang kurang sadar diri terhadap kesehatan lingkungannya. Oleh sebab itu, menghindari mereka saat merokok adalah lebih baik.
di kutip dari http://sidomi.com

Jumat, 27 Juni 2014

Mendisiplinkan Diri Sendiri

"Betapa pun berbakatnya seorang
pemimpin, ia tidak akan mencapai
potensi maksimalnya jika tidak
disiplin" - John C. Maxwell
Jalan menuju puncak tidaklah mudah.
Tidak banyak orang yang berhasil
mencapai posisi terbaik dalam sebuah
pekerjaan. Bahkan yang  dianggap
terbaik malah jauh lebih sedikit.
Tak seorang pun bisa meraih prestasi
dan mempertahankannya tanpa disiplin.
Disiplin menempatkan seorang ke
tingkat tertinggi dan membuat
prestasinya bertahan lama.
Untuk mengembangkan gaya hidup
disiplin, salah satu caranya adalah
hilangkan kecenderungan membuat
alasan. Jika Anda selalu punya banyak
alasan mengapa Anda tidak bisa
disiplin, sadarilah bahwa itu
hanyalah suatu pembenaran diri.
Jika sekarang Anda kurang
berdisiplin, mungkin selama ini Anda
terbiasa menikmati makanan pencuci
mulut sebelum memakan nasinya,
menikmati imbalan sebelum
pekerjaannya selesai.
Dedi, fokuslah pada hasil akhir.
Setiap kali Anda berkonsentrasi pada
kesulitan pekerjaan, bukan pada
hasil, Anda akan cenderung putus asa.
Jika berkutat pada hal itu terlalu
lama, Anda akan menumbuhkan sifat
mengasihani diri sendiri, bukan
kebiasaan disiplin. Pikirkan
keuntungan dari melakukan pekerjaan
itu, dan kerjakan saja.
Jika Anda tahu Anda berbakat, dan
Anda telah berusaha keras, namun
hanya memperoleh sedikit hasil nyata,
Anda mungkin kurang disiplin.
Perhatikan jadwal Anda minggu lalu,
adakah yang meleset dari
target-target Anda? Jika Anda
menunda-nunda dan berniat
melakukannya nanti, Anda mungkin
perlu membenahi disiplin Anda.

Rabu, 04 Juni 2014

Kekuatan Mimpimu, Kenyataan Hidupmu

"Masa depan adalah milik siapa yang
percaya pada keindahan mimpi mereka"
Dear Dedi,
Mimpi bukanlah milik orang-orang
besar saja atau orang-orang yang Anda
anggap sudah ditakdirkan sukses.
Mimpi bisa diraih siapa saja. Dimulai
dari terwujudnya sebuah mimpi kecil.
Anda pun menjadi percaya, mimpi besar
pun dapat Anda raih. Semuanya dimulai
dari keberanian bermimpi dan
mempercayai mimpi.
Seperti seorang teman, ia sebenarnya
karyawan biasa yang sudah lama
memimpikan pergi ke Italy, karena ia
adalah fans tim sepakbola Italy dan
makanan Italy.
Jika dihitung secara matematis,
gajinya tidak mencukupi untuk
membayar tiket pesawat dan akomodasi
di sana. Tabungannya juga tidak cukup
sebagai jaminan untuk keluarnya visa
dari kedutaan Italy. Tapi inilah
kekuatan mimpi.
Siapa sangka, seorang kenalannya
tahun lalu mengajak ia menjadi
seorang pembimbing summer camp
anak-anak Indonesia di musim liburan
ini. Negaranya boleh ia pilih
sendiri. Dan tentu saja,negara
pilihan pertamanya adalah Italy.
Setelah melalui proses wawancara dan
menunggu selama 1 tahun karena
penuhnya posisi tersebut, ia pun
diterima sebagai pembimbing. Ia pun
terbang dan tinggal selama 1 bulan di
Italy, tanpa perlu mengeluarkan
biaya, malah mendapatkan uang saku!
Dedi, percayalah pada kekuatan mimpi.
Kalau mimpi Anda saat ini belum
terwujud, jangan menyerah! Segila
apapun itu, tetaplah percaya mimpi
Anda pasti akan menjadi kenyataan,
cepat atau lambat!

Rabu, 21 Mei 2014

Hidup Ini Tidak Hanya Untuk Bertahan Hidup

"Orang-orang yang luar biasa bertahan
dalam situasi yang sangat sulit, dan
mereka menjadi semakin luar biasa
karena itu" - Robertson Davies


Hidup ini terlalu berharga, jika Anda hanya menjalani 'gaya hidup bertahan saja' dalam jangka waktu lama.
Kadang-kadang kita memang mengalami masa-masa sulit. Masalah datang silih berganti. Ekonomi yang jatuh, bisnis yang melambat, kesehatan yang melemah, dan hubungan yang mungkin mengalami masa-masa sulit.
Buatlah keputusan, bahwa apa pun yang menimpa Anda, betapapun sukarnya, betapa pun tidak adilnya, Anda akan melakukan lebih banyak lagi dari sekedar hanya bertahan hidup. Anda akan berkembang pesat walaupun semua itu terjadi.

Ibarat sebuah musim kemarau yang berganti dengan musim hujan. Allah SWT pun telah menyiapkan sebuah musim baru untuk Anda. Allah memiliki hal-hal luar biasa untuk Anda di masa depan. Allah memiliki pintu-pintu
baru yang ingin Anda membukanya. Ia menginginkan kehidupan Anda lebih baik daripada sebelumnya.

Dedi, mentalitas bertahan hidup hanya akan menghalangi Anda mencapai hal terbaik dari Allah SWT.
Jika harapan Anda selalu kurang, Anda pun akan mendapatkan yang kurang. Tetapi jika Anda berharap berkah yang lebih besar lagi, Allah akan meningkatkan hidup Anda dengan cara yang lebih hebat lagi. Apa yang terjadi pada kita, seburuk apapun itu, tidak akan menghalangi kekuasaan-Nya. Tetapi terkadang pikiran kitalah yang justru menghalangi kekuasaan Allah pada kita. Dedi, tetaplah beriman, yakinlah Allah SWT selau memberikan yang terbaik buat hamba-Nya.

Selasa, 06 Mei 2014

Nasi Sudah Menjadi "Bubur Ayam Spesial"

Nasi Sudah Menjadi Bubur Bukanlah Kiamat

Saat keterlanjuran sudah berlalu, kita sering mengatakan “Nasi sudah menjadi bubur”. Betulkah ungkapan ini? Atau sekedar mencari pembenaran untuk tidak memperbaiki yang sudah ada? Insya Allah setelah membaca cerita berikut, kita akan memiliki pandangan berbeda terhadap suatu keterlanjuran.

Nasi Sudah Menjadi Bubur? Memang Tidak Suka Bubur?

Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.
“Mengapa kamu tidak pindah saja?” tanya temannya, Budi.
“Ah, biarlah, nasi sudah menjadi bubur” jawabnya, tidak peduli.
“Apakah kamu akan tetap seperti ini?”
“Mau gimana lagi, saya bilang nasi sudah jadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi.” jawabnya berargumen.
“Kalau kamu pindah kejurusan yang kamu sukai, kan kamu akan lebih enjoy.” kata temannya.
“Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Saya terlambat menyadari kalau saya salah masuk jurusan.” jelasnya sambil merebahkan diri di kasur dan mengambil remote control TV-nya.
“Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?” selidik temannya.
“Tidak, saya sudah katakan berulang-ulang nasi sudah jadi bubur.”

Nasi Sudah Menjadi Bubur Tidak Selama Jelek

Temannya pun diam sejenak, dia bingung melihat temannya yang sudah tidak semangat lagi. Kemudian dia teringat pada temannya yang memiliki nasib yang sama, salah memilih jurusan. Dia pun pulang ke rumahnya kemudian menelpon temannya tersebut Saat keterlanjuran sudah berlalu, kita sering mengatakan “Nasi sudah menjadi bubur”. Betulkah ungkapan ini? Atau sekedar mencari pembenaran untuk tidak memperbaiki yang sudah ada? Insya Allah setelah membaca cerita berikut, kita akan memiliki pandangan berbeda terhadap suatu keterlanjuran.

Nasi Sudah Menjadi Bubur? Memang Tidak Suka Bubur?

Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.
“Mengapa kamu tidak pindah saja?” tanya temannya, Budi.
“Ah, biarlah, nasi sudah menjadi bubur” jawabnya, tidak peduli.
“Apakah kamu akan tetap seperti ini?”
“Mau gimana lagi, saya bilang nasi sudah jadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi.” jawabnya berargumen.
“Kalau kamu pindah kejurusan yang kamu sukai, kan kamu akan lebih enjoy.” kata temannya.
“Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Saya terlambat menyadari kalau saya salah masuk jurusan.” jelasnya sambil merebahkan diri di kasur dan mengambil remote control TV-nya.
“Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?” selidik temannya.
“Tidak, saya sudah katakan berulang-ulang nasi sudah jadi bubur.”

Nasi Sudah Menjadi Bubur Tidak Selama Jelek

Temannya pun diam sejenak, dia bingung melihat temannya yang sudah tidak semangat lagi. Kemudian dia teringat pada temannya yang memiliki nasib yang sama, salah memilih jurusan. Dia pun pulang ke rumahnya kemudian menelpon temannya tersebut